ANALISA
TEKNIS PELAKSANAAN SISTEM PENIRISAN TAMBANG UNTUK MENGHADAPI MUSIM PENGHUJAN
PADA
AKTIVITAS OPERASIONAL PENAMBANGAN
OPEN PIT
GRASBERG
DI PT
FREEFORT INDONESIA
I. LATAR BELAKANG
Tambang terbuka adalah suatu
metode penambangan yang segala kegiatan dan aktivitas penambangannya dilakukan
diatas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya
berhubungan langsung dengan udara luar (atmosfer).
Penambangan tembaga dan
emas di daerah Grasberg oleh PT. Freeport Indonesia adalah menerapkan Sistem
Tambang Terbuka (Surface Mining) dengan Metode Open Pit. Kegiatan utamanya
terdiri dari kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup (Top Soil), pembongkaran
batuan (overburden) dari batuan induknya dengan proses peledakan (pemberaian
batuan), serta kegiatan pemuatan dan pengangkutan ore dari lokasi penambangan
ke lokasi Stockpile Area, Dumping Area serta lokasi Crusher.
Sistem tambang terbuka (surface
mining) dimana semua proses penambangan dilakukan di atas permukaan tanah,
maka tidak dapat dihindarkan akan adanya air-air yang menggenangi permukaan
tanah terutama pada saat musim hujan yang sudah tentu mengganggu pekerjaan
penambangan yang telah disebutkan diatas, ditambah lagi harus adanya perbedaan
antara air yang bersih dan air yang kotor, karena air yang bersih akan masuk ke
dalam sungai-sungai penduduk. Oleh sebab itulah, perlu dilakukan suatu
pekerjaan yang dapat memanage air
demi kelancaran operasional dan memisahkan antara air bersih yang berasal dari
hutan agar tidak bercampur dengan air kotor yang berasal dari area tambang.
Masalah penanganan air
pada area tambang mulai terasa ketika musim penghujan telah tiba yaitu antara
bulan Oktober sampai dengan bulan April, yang dimana jumlah
curah hujan rata-rata bertambah secara significant
dibandingkan pada musim kemarau. Maka oleh sebab itu, suatu perusahaan tambang
harus mempersiapkan pelaksanaan drainage system ketika musim penghujan mulai
tiba.
II.
PERUMUSAN
MASALAH
Ciri utama pada tambang
terbuka adalah pengaruh iklim pada kegiatan penambangan. Elemen-elemen iklim
seperti hujan, suhu, tekanan udara, dan kelembaban udara dapat mempengaruhi
kondisi tempat kerja, unjuk kerja alat dan kondisi pekerja yang selanjutnya
dapat mempengaruhi produktivitas tambang. Oleh karena itu harus dilakukan
penanganan yang tepat supaya produktivitas tambang tidak terganggu, dalam hal
ini akan kita khususkan dalam penanganan air (penyaliran air).
Masalah-masalah yang
dapat ditimbulkan oleh limpahan air yang berlebihan ketika musim penghujan pada
area produksi pada pit adalah :
·
Menimbulkan kondisi kerja berlumpur sehingga
mempengaruhi produktivitas alat.
·
Merubah kestabilan dinding bench (slope
stability).
·
Mengurangi persentase Kesehatan dan Keselamatan
Kerja.
·
Mengganggu aktivitas peledakan sehingga harus
membutuhkan bahan peledak water proof seperti ANFO.
·
Menambah Cycle Time pada alat Produksi seperti
Waiting Time, Spotting Time, Queying Time, Manuver Time dll karena kepadatan
permukaan kerja berkurang sehingga dapat menimbulkan amblasan ketika Haul Truck
berjalan.
Air di area tambang emas dan tembaga dibedakan menjadi dua jenis
yaitu air bersih dan air kotor. Air bersih adalah air yang berasal dari air
hujan, air limpahan hutan/gunung sedangkan air kotor adalah air tanah yang
keluar baik di dasar pit maupun di bidang – bidang crest & toe, tetapi
sudah terkontaminasi oleh batuan diatas lapisan batuan ore. Adapun penanganan
masalah air ini pada tambang terbuka
yaitu : daerah sumur (pit), dengan membuat Sump di dasar pit sebagai
tempat menampung air tanah dan air hujan di satu tempat kemudian air tersebut
disedot keluar dari pit dengan menggunakan pompa sentrifugal dan pompa
submersible secara bertahap dari sump ke level – level diatasnya melalui
pipa-pipa karet secara bertahap.
Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.
Mine
Drainage, merupakan upaya untuk mencegah masuknya (mengalirnya)
air ke tempat penggalian. Mine drainage umumnya dilakukan untuk penanganan air
tanah yang berasal dari sumur air permukaan (sungai, danau, dan lain-lain).
2.
Mine
Dewatering, merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk
ke tempat penggalian, terutama untuk penanganan air hujan.
Air pada lokasi tambang umumnya berasal dari:
1.
Air permukaan
Air permukaan adalah air
yang terdapat dan mengalir diatas permukaan tanah. Sumber utama air permukaan
pada suatu tambang terbuka adalah air hujan. Curah hujan yang relatif
tinggi pada tambang di Indonesia mengakibatkan pentingnya penanganan air hujan
yang baik agar produktivitas tambang tidak menurun.
Jenis air ini meliputi:
v Air
limpasan (run off)
Air Limpasan yaitu air yang mengalir di permukaan, tidak meresap ke dalam
tanah.
v Air
buangan (limbah)
v Lapisan aquifer yang
telah terpotong (digali).
Penanganan air permukaan bisa dilakukan dengan
membuat sumuran (sump) dan saluran air (channel).
· Sumuran (Sump)
Sumuran berfungsi
sebagai penampung air sebelum dipompa ke luar tambang. Dengan demikian, dimensi
sumuran ini sangat tergantung dari jumlah air yang masuk serta keluar dari
sumuran.
·
Saluran
Air (Channel)
Saluran air di tambang berfungsi untuk menampung limpasan
permukaan pada suatu daerah dan mengalirkannya ke tempat pengumpulan (sumuran)
atau tempat lainnya.
Channel terdiri dari dua macam yaitu Clean Water Channel (Jungle Runoff Channel) dan Dirty Water Channel (Dump Runoff
Channel). Clean water channel adalah saluran
yang dibuat untuk mengalirkan air bersih yang berasal dari hutan dan
mengalirkannya pada sungai penduduk. Sedangkan Dirty Water Channel adalah saluran yang mengalirkan air
kotor/air asam yang berasal dari area tambang.
Dalam merancang bentuk dan dimensi saluran air atau
channel, sangat perlu sekali dilakukan analisis sehingga saluran air tersebut
memenuhi hal-hal sebagai berikut :
o
Dapat mengalirkan debit air yang direncanakan.
o
Kecepatan air sedemikian sehingga tidak terjadi
pengendapan/sedimentasi.
o
Kecepatan
air sedemikian rupa sehingga tidak merusak saluran (erosi).
Kecepatan
air sedemikian rupa sehingga tidak merusak saluran (erosi).
Gambar 1. Channel atau Saluran
air
2.
Air bawah permukaan.
Air bawah permukaan
adalah air yang terdapat dan mengalir dibawah permukaan tanah.
Jenis air
bawah permukaan ini meliputi:
Ø Air tanah
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah, terdapat di dalam ruang
antar butir tanah yang membentuk aliran di dalam retak-retak (crack) dari
batuan.
Ø Air
rembesan (seepage)
Air rembesan (seepage) adalah air
limpasan yang masuk kedalam sela-sela pori-pori lapisan batuan ore.
Untuk
suatu desain saluran terbuka yang akan diterapkan pada tambang terbuka
mempunyai syarat sebagai berikut:
-
Dapat
mengalirkan debit air yang dihitung.
-
Kecepatan
air tidak menyebabkan pengendapan atau erosi.
-
Kemudahan
dalam penggalian saat pembuatan.
Ada beberapa bentuk desain penampang saluran
terbuka yang dapat diterapkan, seperti:
-
penampang
segi tiga
-
penampang
segi empat
-
penampang
trapesium
Ketiga
bentuk penampang tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

h h h h
h h
h h h
Segitiga Segi empat Trapesium
Gambar 2.
Bentuk penampang saluran terbuka
Untuk melakukan kegiatan pembuatan drainage system
yang baik menjelang musim penghujan maka perlu diadakan proyek Dry Season
Project pada saat musim kemarau atau musim kering.
Dry Season Project merupakan proyek yang
dilakukan pada musim kering (kemarau) untuk persiapan datangnya musim hujan.
Tujuan utama Dry Season Project adalah untuk mengatur air yang masuk
ke area tambang demi kelancaran operasional. Sedangkan kegiatannya yaitu
mempersiapkan area dumpingan, menyimpan top soil dan sub soil (soil salvaging), membuat sistem drainase
(penyaliran tambang), dan melakukan reklamasi.
III. MAKSUD
DAN TUJUAN TUGAS AKHIR
Maksud dan tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini
adalah :
1.
Salah satu persyaratan untuk mendapatkan kelulusan
pada Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Trisakti.
2.
Meningkatkan produktivitas penambangan dengan membuat drainage
system yang tepat dan cermat untuk menghadapi musim penghujan.
3.
Meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan kerja
(K3) pada area produksi opent pit Grasberg.
4.
Sebagai
penelitian untuk meneliti permasalahan-permasalahan, baik yang merupakan permasalahan
teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan drainage system agar
aktivitas penambangan berjalan optimal sehingga target produksi dan Net Present
Value dapat tercapai.
IV.
MANFAAT PENELITIAN
1.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan bagi
pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan drainage system pada
open pit di PT Freeport indonesia.
2.
Mengoptimalisasi aktivitas pertambangan pada open pit
ketika musim penghujan khususnya pada bulan September-Maret
3.
Meningkatkan produktivitas alat berat tambang baik itu
alat muat maupun alat angkut ketika bekerja dalam musim penghujan.
4.
Hasil penelitian ini dapat
menjadi masukan atau bahan perbandingan bagi peneliti lain yang melakukan
penelitian yang serupa.
V. METODE PENELITIAN
Metode Penelitian
yang akan digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Metode Kuantitatif
Metode
ini merupakan metode dalam pengumpulan data-data yang berupa angka-angka dimana
nantinya akan digunakan dalam perhitungan perancangan system drainage, antara
lain :
a.
Geometri Jenjang untuk
pembuatan system drainage pada area pit (Bench Height, Bench Angle Face (BAF),
Toe, Crest, Berm, Bench Widht, Overall Slope Angle).
b.
Review Pengaruh air permukaan.
c.
Debit air, Keasaman air,
temperatur air, water velocity.
d.
limpahan air (flow rate), intensitas curah
hujan rata-rata, dan luas daerah tangkapan hujan.
e.
Jenis pompa
2. Metode Kualitatif
Metode
ini merupakan metode dalam pengambilan data yang berupa informasi yang didapat
dari hasil wawancara dan penelitian langsung dilapangan untuk memperkuat
data-data yang diambil langsung dari lapangan dan buku.

Gambar
Diagram Alir Metode Penelitian
VI. LOKASI PENELITIAN
Lokasi
Penelitian Tugas Akhir adalah pada sistem penambangan terbuka (Opent Pit Mining),
yaitu tambang di daerah Grasberg yang dioperasikan oleh PT. Freeport Indonesia
di Propinsi Papua Barat
VII. WAKTU PENELITIAN
Waktu
pelaksanaan Tugas Akhir ini dapat dimulai pada
bulan pertengahan akhir Januari 2005, tidak menutup kemungkinan setelah waktu
tersebut atas kebijakan Perusahaan yang bersangkutan.
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Minggu
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
||
|
1
|
Studi Pustaka
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Orientasi Lapangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pengambilan
Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pengolahan Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Analisa Data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Pembuatan Laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
VIII.
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Komponen-komponen Drainage System
Komponen-komponen drainage system yang umumnya dipakai pada tambang
terbuka (surface mining) adalah :
1.
Cut-off
Drains, dipasang sepanjang crest untuk menahan dan mengalihkan
aliran air dari atas slope (upslope
runoff) yang menuju dinding depan slope (batter face slopes).
2.
Bench
Drains, dipasang sepanjang bench baik pada cut atau fill slopes
untuk mengurangi aliran air yang menuju kearah bawah slope dengan cara menahan
atau membelokkan air dari bench tersebut.
3.
Level
Spreaders, tersusun dari dinding tanah yang digunakan pada ujung
pengeluaran dari bench drains. Berfungsi untuk mengurangi erosi akibat aliran
air dengan cara menyebarkan konsentrasi material yang terbawa oleh aliran air
pada bench drain tersebut melalui sheet flow sebelum mengalirkannya pada tanah
alami.
4.
Check Dams,
digunakan untuk menangkap sediment yang tererosi dari bagian atas lereng pada
lembah atau selokan. Juga mengurangi erosi dari selokan itu sendiri dengan
menangkap aliran sediment.
5.
Road Side
Drain, tersusun dari bendungan batu yang memiliki saluran air
keluar ataupun batuan yang disusun rendah dengan crest yang berfungsi sebagai
jalan keluar.
6.
Drop
Chutes, terdiri dari terusan batuan yang berbentuk memanjang
dan terpasang di ujung dari saluran /channel untuk memberikan efek aliran yang
jatuh menyusuri dinding bench ataupun tempat-tempat tinggi dan curam lainnya.
7.
Interface
Drains, dibuat pada persimpangan dari dua lereng buatan ataupun
lereng alami. Interface drain memiliki fungsi untuk membawa aliran dari bench
drain dan aliran air yang masuk dari lereng-lereng yang berdekatan.
8.
Table
Drains, dipasang berdekatan dengan jalan, dapat tersusun dari
channel yang diberi dasar ataupun tidak, tergantung kepada gradient kecepatan
aliran.
9.
Corrugated
Steel Culverts, digunakan untuk membawa aliran dibawah jalan. Umumnya
diletakkan pada gradient-gradient yang cukup curam untuk mencegah terbentuknya
lumpur ataupun tumbuhnya tumbuhan di dalam.
10.
Drop Inlet
Structure, adalah kotak masuk yang akan dilalui air sebelum
memasuki gorong-gorong (culvert)
dimana air tersebut disaring sehingga sedimen tidak masuk kedalam gorong-gorong
melainkan mengendap di sekitar saluran.
11.
Pipe Drop
Drains, digunakan pada bench untuk merubah dan mendistribusikan
aliran parit yang berkonsentrasi tinggi ke bagian bawah dari bench menjadi
aliran air dengan kecepatan rendah dengan saluran keluar berupa pipa berlubang
yang bergulung.
B.
Manajemen kerja pada pelaksanaan Drainage System
biasanya secara umum terdiri dari:
§ Mine
Engineering (ME), bertugas untuk memberikan rencana letak channel yang akan
dibuat, batas akhir channel, batas land clearing, dan menghitung/mereview plan dengan aktual. Mine
Engineering juga dibantu oleh tim Survey.
§ Mine Water
Management (MWM), bertugas untuk membuat desain untuk konstruksi, dilihat dari
segi debit air yang akan masuk nantinya pada musim hujan, velocity of water,
jarak yang aman antara channel air bersih dan channel air kotor dilihat dari
sifat-sifat air.
§ Civil
Construction, bertugas untuk menghitung budget alokasi alat sekaligus
mempersiapkan AFE (pengajuan budget untuk proyek ini) dan menyiapkan schedule
dari awal sampai akhir proyek.
§ Mine
Operation (MO), bertugas untuk pengoperasian proyek langsung di lapangan.
C.
Langkah-langkah pengerjaan Drainage System adalah :
1.
Planning.
Mine Engineering memberikan rencana dumpingan (Dump Plan) kepada Mine Water Management
(MWM) dan Civil Construction. Selanjutnya MWM bersama dengan Civil Construction
membuat desain struktur drainase yang akan dibuat, memisahkannya menjadi
struktur drainase sementara (temporary)
dan struktur drainase sampai akhir tambang (end
of mine).
2.
Perkiraan dana yang dibutuhkan (budget) disusun oleh Civil Construction.
3.
Perizinan (approval)
dikerjakan oleh Management.
4.
Seleksi Kontraktor
DAFTAR
PUSTAKA
Arif,
Irwandy., “Tambang Terbuka”, Institut Teknologi Bandung, 2000.
Caterpillar Inc., “Caterpillar Performance Handbook”,
Caterpillar Inc., Peoria, Illinois, USA, 2001.
Chanson,
Hubert., “The Hydraulics of Open Channel Flow”, University of Queensland., Butterworth Heinemann
Co., Australia, 1999.
Gautama,
Rudy Sayoga., “Sistem Penyaliran Tambang”, Institut Teknologi Bandung, 1999.
Prodjosumarto, Partanto., “Pemindahan Tanah Mekanis”,
Institut Teknologi Bandung, 1996.
Peurifoy,
et.al, “Construction, Planning, Equipment and Methods”, McGraw-Hill
International Edition, 2000.
Hartman,
Howard L, “Introductory Mining Engineering”, University of Alabama, Tuscaloosa,
New York, 1987.